Senin, 29 Oktober 2012

Bocah Lembor Tak Suka Membaca, Siapa Bilang?


Siapa bilang anak-anak Desa Lembor tak suka membaca? Para pengelola Perpustakaan Kyai Munawar membuktikan bahwa anggapan umum yang disepakati itu salah besar.

Sejak resmi dibuka pada 28 Oktober 2012, Perpustakaan Kyai Munawar langsung diserbu oleh pengunjung. Sebagian besar pengunjung adalah anak-anak. Anak-anak perempuan mengerubuti rak yang memajang buku-buku cerita bergambar, sementara para bocah laki-laki asyik dengan buku-buku sains bergambar.

Kegairahan yang meluap-luap ini bahkan membuat petugas penjaga perpustakaan kewalahan. Mereka merengek agar perpustakaan dibuka sebelum jadwalnya, dan sewot saat penjaga mengumumkan waktunya perpustakaan musti ditutup. (Karena satu dan lain hal, untuk masa-masa awal pembukaanya, Perpustakaan Kyai Munawar memang masih membatasi waktu pelayanan antara pukul 3-5 sore (ba’da asyar hingga menjelang maghrib) dan pukul 7-10 malam.)

Meski merepotkan, kegairahan yang meluap-luap ini tentu saja menggembirakan. Sebab, ini sejalan dengan target awal yang dicanangkan oleh pengelola perpustakaan. Sasaran utama dari dibukanya Perpustakaan Kyai Munawar untuk publik adalah pembaca anak-anak. Kepolosan yang masih bersih dari prasangka (sesuatu yang biasanya dimiliki oleh orang dewasa terhadap sesuatu yang baru), waktu bermain dan bersenang-senang yang masih melimpah, serta keingintahuan yang besar, menjadi alasan mengapa pembaca anak-anak menjadi target. Mendukung terwujudnya target tersebut, pengelola mengisi sebagian besar rak koleksi perpustakaan dengan bacaan anak-anak.


Di samping itu, kegairahan ini tentu saja sedikit mengikis kekhawatiran awal bahwa perpustakaan baru itu akan menjadi ruangan yang senyap dengan buku-buku yang berdebu dan tak terbaca (sebagaimana nasib perpustakaan di banyak tempat di negeri ini). Pun, menjadi jawaban atas pendapat dari beberapa kalangan bahwa mendirikan perpustakaan di Desa Lembor adalah sesuatu yang mubazir karena hampir pasti tak terbaca. Pendapat ini mengacu kepada pengalaman yang pernah terjadi pada masa-masa sebelumnya.

Tentu saja masih terselip harap-harap cemas bahwa kegairahan anak-anak itu hanya sebuah euforia awal saja—sebagaimana biasa terjadi pada sesuatu yang baru. Sangat mungkin, setelah beberapa kali berkunjung, para pembaca kecil itu dihinggapi rasa bosan. Dan, akhirnya, bocah-bocah itu tak pernah kembali lagi. Namun, bukannya dijadikan halangan, kekhawatiran itu tentu saja dijadikan tantangan oleh pengelola perpustakaan.

Seperti problem semua perpustakaan di dunia dari masa ke masa, pengelola harus bisa membuat pengunjung terus datang ke perpustakaan. Hal yang sama juga hendak dan sedang dilakukan oleh pengelola Perpustakaan Kyai Munawar. Salah satu caranya adalah dengan mengadakan program-program yang mampu menarik minat anak-anak untuk tetap berkunjung ke perpustakaan.

Sembari terus mengupayakan hal-hal yang bisa mengikat pembaca-pembaca pertama dan utamanya ini, kegairahan pada masa-masa awal beroperasinya perpustakaan memberikan harapan yang sangat berharga: anak-anak Desa Lembor ternyata suka membaca. Dan, itu alasan yang lebih dari cukup untuk berdiri dan hidupnya sebuah perpustakaan.

Rabu, 03 Oktober 2012

Menara Merah: Buku Resep Masakan Rasa Komunis


Menjelang kejatuhan Pemerintah Kolonial di Hindia Belanda, yang bersamaan dengan meluasnya ekspansi pasukan Jepang, telah muncul gerakan-gerakan bawah tanah yang berhaluan anti fasis. Salah satunya adalah gerakan yang banyak disebut sebagai PKI Ilegal (mungkin untuk menunjukkan hubungannya dengan PKI legal yang sejak kegagalan pemberontakan 1926 dianggap sebagai organisasi politik terlarang oleh Pemerintah Kolonial Belanda). Muncul atas inisiatif Muso, tokoh PKI lama yang pernah muncul di Surabaya antara akhir tahun 1935 sampai awal 1936, gerakan ini diperkirakan amat kuat kaitannya dengan Komunis Internasional (Komintern) yang sedang giat-giatnya menggalang pembentukan Front Demokratik Melawan Fasisme.