Minggu, 16 September 2012

Sejarah yang Jujur


Oleh Mahfud Ikhwan

Telah umum diketahui, pelajaran Sejarah Kebudayaan Islam (SKI) yang diajarkan di Madrasah Ibtidaiyah (MI) hingga Madrasah Aliah (MA) lebih mirip pelajaran Akidah Akhlak—mata pelajaran yang berisi tentang doktrin agama dan budi pekerti. SKI dimuati begitu banyak misi “meningkatkan keimanan dan ketakwaan” siswa. Mungkin pembaca akan menilai diksi saya ini berlebihan. Namun, anda akan sepakat jika telah membaca panduan penulisan buku ajar SKI MI-MI yang dikeluarkan oleh Departemen Agama RI tahun 2004. Dalam buku panduan yang berlabel “sesuai Kurikulum Berbasis Kompetensi (KBK)” itu bertebaran indikator-indikator yang tidak jauh-jauh dari kata “meneladani”, “mencontoh”, atau sebaliknya, “menghindari”, “menjauhi”, dst. Misalnya, “meneladani sikap terpuji rasul”, “meneladani ketabahan rasul dan para sahabatnya,” “mencontoh keperwiraan rasul dalam perang anu”,  atau “menghindari sifat tercela kaum kafir Quraisy”, “menjauhi sifat-sifat tercela orang Yahudi”, dst.
Dalam batas-batas tertentu, muatan-muatan seperti itu mungkin bisa dimaklumi, mengingat label agama yang tersemat pada mata pelajaran tersebut. Namun yang patut disayangkan, muatan-muatan itu kadang melebihi proporsi. Ketika “islam” lebih ditekankan daripada “sejarah”-nya, maka SKI pun berhenti sebagai ilmu, tapi doktrin. Dan, doktrin jelas berbeda dengan sejarah. Doktrin selalu mengasumsikan kebenaran mutlak yang tanpa kritik, sementara sejarah adalah sebuah upaya mengungkap kebenaran (masa lalu) yang selalu terbuka dengan kebenaran-kebenaran baru. Doktrin bertumpu pada keyakinan yang mantap, sementara sejarah berdiri di atas data dan fakta yang fleksibel dan tak pernah selesai. Jika sejarah telah terjebak menjadi doktrin, maka yang muncul adalah sebuah sejarah yang telah fix, mantap, tak terbantahkan, dan mutlak benar. Padahal, sejarah pada fitrahnya adalah sebuah rekonstruksi. Ia dirumuskan jauh setelah kejadian. Dalam jeda waktu antara kejadian dengan perumusan, begitu banyak kejadian—baik politis maupun sosial-kultural—yang memengaruhi penulisan sejarah tersebut. Lagi pula, sebagaimana ilmu pengetahun yang lain, ia tak pernah bisa kebal dari data-data dan fakta-fakta baru. Jadi, menganggap sejarah sebagai kebenaran yang telah fix adalah pengingkaran atas fitrah sejarah itu sendiri.
Akibat lebih jauh dari sejarah yang jatuh menjadi doktrin adalah munculnya sejarah sebagai cerita heroik. Dalam sejarah yang seperti ini, berlaku hukum dan kaidah-kaidah cerita heroik: hitam-putih, benar-salah, kalah-menang, pahlawan-pecundang. Semua harus jelas. Tak ada ruang bagi yang abu-abu. Tak ada tempat untuk yang samar-samar.  Dengan rumus seperti itu, jangan heran jika suatu saat dalam buku sejarah kita menemukan tokoh yang baiknya minta ampun atau jahatnya amit-amit.
Sebagai contoh, saya akan bicara tentang sejarah Khulafa'ur Rasyidun di buku-buku pelajaran SKI MI kita. Dalam hampir semua buku sejarah Islam untuk sekolah, sejarah Khulafa’ al-Rasyidun, lebih banyak dipenuhi oleh sejarah peperangan (dengan pihak muslim sebagai pemenangnya tentu saja). Pada masa inilah terjadi penaklukan besar-besaran. Sejarah Khulafa'ur Rasyidun juga dipenuhi dengan berbagai pujian tentang akhlak keempat khalifah. Dan, di pada titik inilah biasanya kurikulum SKI sering terjebak terlalu jauh ke wilayah Akidah Akhlak. Karena tuntutan menjadikan Khulafa'ur Rasyidun sebagi teladan anak-anak, buku-buku SKI MI harus mati-matian membersihkan noda (jika memang layak disebut demikian) dari keempat khalifah. Akhirnya, buku-buku tersebut tidak bisa bersikap jujur. Data dan fakta membuktikan bahwa pada masa inilah akar-akar perpecahan dalam tubuh umat Islam mulai tumbuh. Perlu juga diingat bahwa masa ini Islam juga memiliki “sisi-sisi yang gelap”: intrik politik di lingkaran elit sahabat Nabi, tribalisme kabilah yang kembali mencuat, dominasi Quraisy yang sangat kuat, dan juga motif-motif politik ekonomi di balik dalih tersebarnya agama Islam. Pada saat itu pula lahir faksi-faksi seperti Sunni, Syiah, atau Khawarij yang kemudian mewariskan konflik yang laten sampai saat ini. Padahal, tanpa memaparkan “sisi gelap” ini, siapa pun akan sulit menemukan konteks munculnya beberapa perang saudara seperti Perang Jamal atau Perang Siffin. Juga tentang fakta bahwa tiga dari empat Khulafa’ al-Rasyidun terbunuh di ujung pedang para pembunuh gelap. Dua khalifah terakhir bahkan dibunuh oleh saudaranya sesama muslim.
Disengaja atau tidak, kelalaian (jika boleh disebut demikian) memiliki konsekuensi yang tidak kecil bagi umat Islam. Bisa jadi, dari buku-buku sejarah di sekolah seperti SKI inilah akar konflik antarfaksi dalam Islam tak pernah bisa sembuh. Di Indonesia, misalnya, buku-buku SKI jelas sekali bernuansa Sunni. Dalam buku yang Sunni, jangan harap faksi lain mendapat tempat. Kecuali, sebagai pihak antagonis. Dengan demikian, purbasangka yang telah tua itu tetap akan terpelihara. Klaim kebenaran, misalnya tentang satu-satunya golongan di antara 73 yang masuk surga, tetap akan bertahan. Dan rekonsiliasi pun akan berhenti sebagai mimpi.
(Perlu diingat bahwa umat Islam Indonesia tetap mayoritas adalah lulusan sekolah setingkat SD. Dan, dengan keadaan ekonomi seperti ini, angka mayoritas ini akan tetap lestari. Artinya, satu-satunya sumber sejarah Islam yang mungkin bisa mereka akses bisa jadi hanyalah buku pelajaran SKI ini. Jika kurikulum SKI tetap seperti saat ini, jangan harap ada rekonsiliasi dalam tubuh Islam sendiri).
***
Apakah para pahlawan lahir tanpa kesalahan? Apakah teladan hanya bisa diambil dari sebuah kebenaran? Sepertinya tidak. Dalam al-Quran sendiri, begitu banyak kisah tentang kesalahan para nabi. Dengan gamblang al-Quran bercerita kesalahan Adam dan Hawa, tentang kegagalan Nuh as. mengajak anak dan istrinya, tentang keangkuhan Musa as. atas ketinggian ilmunya, kesombongan Sulaiman as. atas kekayaannya, juga tentang Yunus yang mutung menghadapi kebandelan umatnya. Bahkan tentang Muhammad saw. yang ma’sum, kita bisa tahu muka masamnya terhadap Ummi Maktum yang buta. Juga tentang kesalahannya mengambil keputusan soal tawanan dalam Perang Badar. Kisah-kisah itu menunjukkan bahwa Tuhan pun tidak menutupi kesalahan oran-orang yang dikasihi-Nya itu. Sebab, Ia memang menghendaki manusia belajar dari kesalahan orang-orang tersebut. Kisah-kisah itu juga menunjukkan bahwa keteladanan tidak melulu diambil dari kebijakan, tapi juga kesalahan.
Lalu, mengapa sejarah Islam begitu alergi dengan sisi gelap Islam? Padahal, dengan menulis sejarah yang apa adanya pahlawan-pahlawan Islam tak akan pernah terkikis keagungannya. Juga, dengan keagungan Islam itu sendiri. Menulis tentang Umar yang berangasan, cepat naik darah, sedikit-sedikit ancam menebas kepala, juga tentang nasionalisme Arabnya yang kental, tak akan pernah membuatnya menjadi lebih kerdil. Dunia tidak akan mungkin melupakan keagungannya. Umat Islam tak mungkin menurunkan rasa hormatnya. Para siswa pun tak akan meniru kelakuannya. Sebab, mereka juga tahu bahwa al-Faruq memiliki sisi yang lembut dan welas asih. Demikian pula dengan Usman. Kelemahannya menghadapi kaum kerabatnya dari Bani Umayyah yang ambisius tak akan mengurangi kemuliaannya di mata umat Islam. Sifat nepotisnya tak perlu ditakutkan akan menular kepada siswa-siswa.
Dengan memaparkan yang apa adanya, para pahlawan Islam itu justru akan utuh sebagai manusia. Sebagai tokoh yang historis, bukan dewa-dewa. Menurut saya, sejarah yang ditulis dengan jujur dan apa adanya adalah teladan paling baik bagi pembacanya.
Waallahu a’lam bishshawab.


Tidak ada komentar:

Posting Komentar