Kamis, 20 September 2012

Pemberontak itu Mencuri 2500 Buku


Seperti kebanyakan pemberontakan dan gerakan revolusi di seluruh dunia, konsep-konsep yang ditawarkan tokoh Darul Islam/Tentara Islam Indonesia (DI/TII), Kahar Muzakkar, sering sangat muluk. Hal itu bisa disimak pada buku panduan revolusi Islam yang ditulisnya, Catatan Bathin Pejuang Islam Revolusioner, juga pada isi Piagam Makalua yang digagasnya. 

Namun, jangan salah. Kahar Muzakkar tak mau berhenti hanya pada konsep. Ia mencoba mewujudkan konsep-konsep itu dalam tindakan, meski dalam beberapa ukuran tindakan itu dapat dianggap "tidak biasa".

Guna menciptakan masyarakat yang sejahtera dari dunia hingga surga, sebagaimana yang diidam-idamkannya, Kahar Muzakkar tak cukup hanya dengan sebuah negara yang berdasar syariat Islam saja. Lebih dari itu, ia juga menginginkan terwujudnya rakyat yang beradab lagi sehat walafiat. Karena itu, sektor kesehatan dan pendidikan menjadi prioritasnya. Maka, untuk mulai merealisasikan gagasannya, ia mengawalinya dengan membangun klinik-klinik, rumah sakit, sekolah-sekolah, hingga sebuah akademi ilmu sastra.

Tapi revolusi tak bisa menunggu terlalu lama. Dan untuk itu, tak ada pilihan lain, Kahar Muzakkar musti mengambil jalan yang sedikit memintas. 

Untuk mengisi klinik-klinik yang dibangunnya, ia menculik dokter-dokter di rumah-rumah sakit yang dikuasai pasukan Republik. Sementara, bagi sekolah-sekolah dan akademi sastranya, ia membobol perpustakaan pemerintah dan menggondol buku-buku yang dibutuhkannya. Sebuah laporan menyebutkan kalau perpustakaan di Majene, Sulawesi Selatan, kehilangan 2500 judul buku akibat ulah Kahar Muzakkar dan pasukannya.

(disalin dari Cornelis van Dijk, Darul Islam: Sebuah Pemberontakan, Grafitipers, 1983)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar